Pasar Lawang, Surga Persinggahan

Oleh: Astrid W. Roodiyah, SP.*

Barangkali fenomena ini hanya akan anda temui di pasar Lawang. Kota kecil di ujung utara kabupaten Malang. Selaik nama yang disandangnya, pasar Lawang tak ubahnya seperti gerbang transit wisatawan. Apalagi jika hari telah berada di akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Saya tidak tahu apakah lantaran arti kata “Lawang” yang secara kebetulan dalam bahasa Jawa (suku yang mendominasi penduduk Lawang) mempunyai makna “pintu”, lantas Lawang menjadi pintunya kota Malang. Yang jelas, selalu terbesit di benak saya jika sudah sampai Lawang maka Malang hanya selangkah kaki saja. Dulu, saat masih kuliah di kota Malang, saya ingat sekali bagaimana senangnya perasaan saya ketika kereta api pagi yang saya naiki dari Surabaya sudah masuk Lawang. Udara sejuk merebak memasuki celah jendela kereta api pagi, seolah memberi tanda bahwa perjalanan sebentar lagi usai dan kami hampir sampai di kota Malang. Kantuk yang sebelumnya hinggap seakan pergi begitu saja terusir udara sejuk Lawang. Saya terpikat dengan sejuk kota kecil ini.

Barangkali itu pula yang menyebabkan wisatawan tak pernah absen mengunjungi pasar Lawang. Di mana lagi anda akan berbelanja di Lawang, memanjakan mata dan lidah dengan hasil alam yang segar: buah serta sayur mayur merah hijau merona dan merekah selain di pasar Lawang? Memang tak ada lagi tempat keramaian di kota kecil lagi. Jangan bayangkan mall mewah dan megah, plaza, atau taman kota. Yang ada pasar kecil yang selalu berdenyut 24 jam! Denyut ini semakin kencang jika Anda sengaja berkunjung atau hanya sekedar melewati pasar Lawang pada 2 hari di akhir pekan. Semua terpusat di surga persinggahan kota kecil Lawang.

Barangkali tak hanya saya yang punya kebiasaan unik di akhir pekan. Berkendara sore bersama suami menuju pasar Lawang untuk menyaksikan padatnya tempat parkir di pasar Lawang. Tempat parkir yang tak seberapa luas itu penuh sesak dengan berbagai kendaraan mulai dari bus pariwisata hingga mobil pribadi. Berlomba siapa yang paling cepat menebak dari kota mana setiap plat nomor kendaraan yang parkir itu berasal. Menyaksikan orang dari berbagai daerah berkumpul menjadi satu. Mulai kota tetangga, Surabaya, hingga kota-kota di luar Jawa Timur. Banyak diantara mereka lalu lalang berburu buah dan sayur di pasar tradisional sampai memborong oleh-oleh di kompleks rumah-toko yang lebih modern. Beberapa diantaranya hanya terlihat duduk-duduk saja di emperan toko, menikmati keramaian, atau sekedar melepas lelah. Yang wisata kuliner juga tak kalah, warung makanan dan minuman juga yang sekelas café tak pernah sepi dari peminat. Tak ingin kalah seru, para pedagang musiman seakan ingin menandingi riuh pengunjung. Berbekal satu komoditas saja mereka berani berekspansi menjajah area parkir dengan menawarkan tas plastik besar untuk wadah belanja! Tentu saja, para wisatawan nan haus berbelanja jarang yang membawa barang kecil itu, yang ternyata sangat mereka perlukan. Tas plastik atau kresek yang dijajakan para pedagang itu pun laris manis. Remeh namun Cerdik. Sungguh pemandangan yang memukau hati sekaligus menggelitik otak..

Barangkali dengan fenomena di atas, beberapa orang akan berpikir untuk membuka lapak di salah satu sudut pasar Lawang. Seorang kawan berpikir tentang sebuah kedai makanan sementara kawan yang lain membayangkan sebuah lapak sewa yang khusus menawarkan jasa pijat yang memang belum tersedia di pasar Lawang. Fantastis! Saya tak pernah berpikir ke sana. Saya bertanya mengapa harus jasa pijat? Lihat dan perhatikanlah wisatawan yang seliweran itu, kata kawan saya. Semua tersenyum senang. Adakah yang tidak merasa senang? Ya, para sopir kendaraan. Mereka mungkin sudah berkali-kali mengunjungi pasar Lawang. Dan perjalanan yang cukup jauh pasti membuat mereka lelah. Ya..ya..ya, saya menangkap ke mana arah pembicaraan kawan saya itu. Kira-kira seperti ini lanjutannya. Maka, mengapa kita tidak membuka sebuah lapak yang menyenangkan kaum minoritas itu? Mereka juga perlu merasa senang kan? Jasa pijat sangat pas untuk mereka. Bahkan yang lain juga akan tertarik untuk meregangkan otot mereka yang capai mondar-mandir berbelanja keluar masuk pasar. Mereka senang karena kembali bugar, kita pun senang. Begitu? Ya, seratus untuk saya, haha.

Barangkali di kemudian hari, celoteh kawan saya yang saya ceritakan di atas tak hanya sekedar bayangan belaka. Mungkin saat ini ia sedang disibukkan dengan urusan keluarganya. Namun siapa tahu, suatu sore saat saya berkendara di akhir pekan. saya akan menyaksikan sebuah lapak jasa pijat ramai dengan antrian wisatawan transit yang ingin menikmati pijat ala Lawang… Tentunya, itu akan menambah kenikmatan di surga persinggahan: pasar Lawang.

*seorang ibu rumah tangga dan aktivis ASI yang menyukai dunia menulis serta pendidikan anak

About hmcahyo

the one who always keep on searching the meaning of the life
This entry was posted in Artikel Siswa and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s