Hati-hati, Pak Husnun datang membawa virus menular!

Oleh: Astrid W. Roodiyah, SP.*

Apa yang anda pikirkan tentang kata “virus”? Pada umumnya kita melakukan imunisasi untuk mencegah virus berbahaya menyerang kekebalan tubuh kita. Namun, hal tersebut tidak akan pernah berlaku untuk virus yang akan saya ceritakan kali ini. Bagi anda yang ingin belajar menulis, memulai menulis, atau sekedar hobi menulis, harap berhati-hati karena virus itu bernama menulis.

Bertempat di salah satu gedung komplek sekolah Ummu Aiman, tepat seminggu yang lalu, Ahad 6 Maret 2011 (saya sangat terlambat menuliskan cerita ini sebagai tugas penulisan, tapi insyaAllah virus menulis itu masih merajut kesadaran diri saya untuk tetap menuliskannya sebagai bahan pembelajaran untuk saya juga anda, pembaca blog SMi), siswa SMi –Sekolah Menulis Insaf- mendapatkan virus menulis yang di bawa oleh salah seorang guru besar di dunia penulisan, Bapak Husnun N Djurait.

 

Pak Husnun menuturkan bahwa beliau tidak hendak mengajarkan sebentuk teori tapi membawa virus menulis untuk ditularkan. Mengapa harus virus menulis?

 

Menulis laik disebut sebagai sebuah virus karena memiliki sifat menular. Seperti halnya virus flu yang mudah menjakiti kita saat berada di tengah kerumunan orang banyak, di tambah pula sistem imun kita sedang tidak vit, maka kita akan mudah terjangkit flu. Pun dengan menulis. Jika ingin terjangkiti virus menulis maka pergilah ke tempat orang-orang yang mencintai menulis dan bekali diri kita dengan sedikit saja ketertarikan untuk menulis (alias tanpa imun untuk menolak virus menulis).  Tak harus banyak orang untuk menulari kita suatu virus. Jika kita berinteraksi dengan satu saja penderita flu berat, otomatis kita mudah tertular.  Tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi  jika kita berinteraksi dengan seorang pakar menulis yang sangat mencintai menulis. Bisa dipastikan kita akan tertular virus menulis yang dibawanya (seperti pak Husnun). Dengan demikian seorang yang ingin eksis dan terus menulis wajib mendekatkan diri dengan sebuah komunitas menulis agar virus menulis itu tetap hidup dalm sistem kreatifnya.

 

Bagaimana memulainya?

 

Memulai menulis adalah dengan menulis. Akan berlarut apabila kita terus mempersoalkan teori penulisan. Dengan segera menulis, kita akan mengetahui di mana letak kekurangan dan kekuatan tulisan kita, kita dituntut untuk terus membenahi  sehingga perlahan kita pun belajar bagaimana membuat sebuah tulisan dengan kualitas yang baik.  Tidak menjadi masalah apakah  kita seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar, seorang buruh pabrik, ataukah orang tua yang sibuk bekerja. Virus menulis tidak mengenal usia dan pekerjaan. Kita semua layak menulis dan menjadi seorang penulis.

 

Apa lagi kah?

 

Menulis seperti halnya mempelajari sebuah ketrampilan. Kita dituntut untuk terus berlatih agar kepekaan menulis kita terasah dan membuat kualitas karya yang kita hasilkan menjadi semakin lebih baik.  Kapan dan di mana sebaiknya kita berlatih? Kapanpun dan di manapun. Ada baiknya kita mempersiapkan sebuah catatan kecil yang bisa dipergunakan untuk mencatat ide-ode kecil yang bermunculan dalam kondisi yang tidak pernah kita bayangkan. Saat bosan atau menikmati pemandangan dalam perjalanan di kereta api, misalnya. Bahkan ide itu bisa saja kita dapatkan ketika baru saja selesai mandi karena kita merasa sangat segar dan otak kita pun menjadi liar memikirkan ide-ide segar.  Oleh karena itu, jangan pernah mengacuhkan ide-ide kecil yang teramat sederhana tersebut. Belum tentu kita bisa memulai menulis ketika membuka PC atau notebook karena merasa kehilangan ide. Ide kecil bisa menjadi sebuah inspirasi untuk tulisan yang hebat.  Selain berlatih, ada satu cara mengasyikkan untuk mengasah ketrampilan menulis, yakni dengan membaca. Seorang penulis yang baik adalah juga seorang pembaca yang baik. Sebuah buku yang kita baca bisa membawa budaya di luar kehidupan kita sehari-hari berada di depan mata kita, menyajikan imajinasi indah dalam alam pikir kita, mengangkut kita ke sejarah masa lalu tentang pasukan gajahnya sang raja Abrahah  yang dikalahkan jamaah burung Ababil, juga ke masa depan. Mengasyikkan bukan? Baik membaca dan berlatih, keduanya harus dilakukan secara kontinyu. Semakin banyak yang kita baca, semakin banyak pengetahuan kita, semakin sering kita berlatih dan membenahi tulisan, insyaAllah semakin baik kualitas tulisan kita.

 

Ahh, rasanya saya ingin membuka halaman baru untuk tulisan yang lain. Sekarang,.. sudahkah diri anda ingin menulis?

 

*seorang ibu rumah tangga dan aktivis ASI yang menyukai dunia menulis serta pendidikan anak

About hmcahyo

the one who always keep on searching the meaning of the life
This entry was posted in Artikel Siswa and tagged , . Bookmark the permalink.