Obat Tinggi

Oleh:
Styono, SE, MT*

Saudaraku jauh masih penasaran dengan gelar yang “kadang-kadang” nempel di belakang namaku. Wajar lah, dari perspektif mana pun, orang yang mengenal dekat terhadapku pasti berkomentar,”Tidak mungkiiiiiin!” Bisa lulus SMP saja sudah mesti ngucap alhamdulillah. Bapaknya buruh tani, ibunya pekerja keras mengurus rumah tangga yang digaji sesuai yang didapat Direktur Keluarganya, adik-kakaknya pun ada yang berijasah SD, SMP, paling tinggi SMEA; itu pun kakaknya mesti tut wuri handayani dengan bekerja sebagai Pe eR Te. Jadi dari sudut mana pun orang akan bingung dengan gelar yang diketahui tiba-tiba ditulis dibelakang namanya, apalagi hanya KADANG-KADANG. Curiga! Jangan-jangan hanya guyonan yang memang dia, kalau lagi kumat, lumayan piawai ngebodor.
“SE MT itu sejarahnya piye to Mas?”
Sarjana ENGGAK Master TIDAK!” cetusku.
“Njenengan mesti gitu e, Mas!”
”Iyya bener…gelar itu kan kudu dibuktikan dg “foto wisuda”, dan aku tak punya itu Dek”.
“Haiyyah merendah…!”
“Enggak kok, wong aslinya aku memang rendah alias pendek, lha nanti kalau “meninggi” Sampean tanya terus pakai obat apa?

****

*) salah satu peserta Sekolah Menulis Insaf Angkatan I

About hmcahyo

the one who always keep on searching the meaning of the life
This entry was posted in Artikel Siswa and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s