KARENA SUNGKAN

Oleh:
Styono, SE, MT*

Barangkali saya termasuk yang punya garis tangan baik, seringkali beruntung. Masalah prestasi, alhamdulillah saya tak banyak mengalami kendala berarti. Sejak kecil saya sudah hobi mendapat hadiah utama seandainya tidak dapat juara….(kan seandainya, jadi kalau ingin hadiah pasti harus juara). Mulai juara balapan karung, lari kelereng, masukkan jarum ke botol, gigit uang receh di jeruk ber-oli, bahkan ditunjuk mewakili sekolah saat itu untuk tampil menari jawa klasik, menyanyi mocopat-panembromo, dan yang bikin heboh keluargaku adalah, ketika klas 4 SD, saya mendapat juara harapan 1 MTQ tingkat kecamatan (alif ba ta saja tidak hafal).

Sedang juara untuk yang jenis “modern” juga tidak kalah seringnya, juara I paralel nilai raport tingkat SMP, juara harapan I Pelajar Teladan tingkat SMP se-kabupaten, juara Cepat Tepat mata pelajaran Agama, dan P4, juara Cipta dan Membaca Puisi, jawara Lomba Penulisan Naskah Keagamaan tingkat SMA se-kabupaten yang akhirnnya menjadi finalis tingkat provinsi. Hingga akhirnya saya merasa “bosan” menjadi juara, ada semacam kekhawatiran jangan-jangan jurinya sudah kadung kenal, dan “merasa lebih” yang bisa membahayakan kepribadian orang desa sepertiku.

Sekolah tidak bayar pun saya sudah mengalami sejak SMP klas 3, baik karena dibayari guru, dibebaskan oleh sekolah, sampai saya malah “dibayar” oleh tempat saya menuntut ilmu. Hal itu tidak semata-mata karena saya memiliki kebanggaan prestasi, melainkan karena nasib baik atau tepatnya takdir baik dari Allah swt. Betapa banyak orang yang jauh lebih pandai dari saya tetapi belum tentu mendapat keberuntungan seperti saya. Hingga saya lulus pasca sarjana pun juga karena ada yang membiayai. Sekali lagi karena takdir baik buat saya.

Yang membuat penasaran teman-teman sekolah saya adalah gelar MT-Master Teknik dari perguruan tinggi paling keren se-Indonesia. SMA jurusan IPS, Diplomanya di Sekolah Akuntansi Negara, Sarjananya jurusan Ekonomi UGM.

“Lha kok bisa kamu masuk Teknik Geodesi, gimana caranya?”

“Sama saja dengan yang lain ada tes potensi akademik, tes TOEFL, dan lain-lain”, jawabku ringan.

Ho oh, hebatnya kamu bisa ngalahin sainganmu yang mungkin sebagian besar anak IPA”.

Ah….bikin tidak enak hati saja, ada saingan segala! Padahal saya ikut tes hanya supaya bisa tilik orang tua saja. Bayangkan! Sejak ditempatkan kerja di luar Jawa, lebaran saja hampir tak pernah pulkam, karena alasan anak masih kecil (ya iyalah namanya anak pasti kecil, kalau besar namanya orang!), cuti sudah habis, dan yang pasti faktor “duit”. Karena itu ada even apa pun yang sifatnya gratis maka akan saya ambil peluang itu, termasuk ikut tes “kuliah gratis”. Berkali-kali saya ucapkan alhamdulillah karena dimudahkan.

“Seingatku bahasa Inggrismu biasa saja, lha TOEFL juga lulus” rasa penasaran temanku seakan bertumpuk-tumpuk.

“Penilaianmu betul semua teman, hanya satu hal yang membuatku bisa lulus”, saya tambahkan rasa penasarannya.

“Apa itu?”

“Yang nyeleksi sungkan!”

“Lha kok?”

“Sungkan kepada Allah!”


*) Salah satu peserta Sekolah Menulis Insaf angkatan 1

About hmcahyo

the one who always keep on searching the meaning of the life
This entry was posted in Artikel Siswa and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s